BEKASI,CentangSatu.com— Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) kembali melaksanakan program pendampingan gizi bagi 40 balita di Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi. Program ini menjadi upaya berkelanjutan untuk memperbaiki status gizi anak di wilayah padat penduduk dengan akses terbatas terhadap makanan bernutrisi.
Pendampingan ini menyasar balita dengan kondisi stunting, wasting, serta anak-anak yang berada dalam keluarga penderita tuberkulosis (TBC). Mayoritas keluarga merupakan pemulung dan pekerja harian dengan pendapatan tidak tetap, sehingga pemahaman terkait gizi seimbang masih menjadi tantangan.
Salah satu persoalan gizi yang menjadi perhatian adalah kesalahan konsumsi kental manis yang dianggap sebagai susu anak. Banyak keluarga menjadikan produk tersebut sebagai alternatif susu karena harga yang lebih terjangkau dan minimnya informasi. Dampaknya mulai terlihat, seperti kasus seorang anak berusia 7 tahun di Ciketing Udik yang mengalami obesitas setelah terbiasa mengonsumsi kental manis sejak bayi.
Kepala Puskesmas Ciketing Udik, Nurjanah, menegaskan pentingnya pemahaman bahwa kental manis bukan susu bergizi. “Kental manis itu isinya lebih banyak gula. Dampaknya memang tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka panjang dapat mengganggu kesehatan anak,” ujarnya.
Edukasi mengenai gizi diberikan bukan hanya kepada para orang tua, tetapi juga kepada kader posyandu dan kader Aisyiyah yang menjadi ujung tombak dalam penyampaian informasi kesehatan di masyarakat. “Kader harus tahu makanan mana yang tinggi protein dan baik untuk pertumbuhan anak, bukan makanan yang hanya mengandung gula,” tambah Nurjanah.
Perwakilan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Diah Lestari Budiarti, menegaskan bahwa program ini merupakan pendampingan jangka panjang. “Kami ingin warga merasa didampingi dalam upaya memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Pendekatan melalui kader menjadi kunci keberhasilan, karena mereka sudah dipercaya dan memahami dinamika sosial warganya,” jelasnya.
Aisyiyah dan YAICI menekankan bahwa pendekatan berbasis komunitas menjadi kekuatan utama dalam mengubah perilaku konsumsi keluarga, terutama dalam menghentikan kebiasaan penggunaan kental manis sebagai minuman susu bagi anak.


















