Scroll untuk baca artikel
Hukum

Aksi Demo Berujung Anarkis, Wakil Bupati Jayawijaya Dikejar dan Terancam Senjata Tajam

192
×

Aksi Demo Berujung Anarkis, Wakil Bupati Jayawijaya Dikejar dan Terancam Senjata Tajam

Sebarkan artikel ini

Centangsatu/Jakarta cikini– Aksi yang semula disampaikan sebagai demo damai oleh Asosiasi 328 Kepala Kampung se-Kabupaten Jayawijaya berubah menjadi aksi anarkis dan mengancam keselamatan Wakil Bupati Jayawijaya pada Senin, 8 September 2025, di halaman Kantor Bupati Jayawijaya.8/1/2026

Berdasarkan kronologis kejadian, informasi terkait rencana aksi telah beredar sejak Jumat, 5 September 2025, melalui media sosial. Aksi tersebut dikoordinir oleh Naligi Kurisi selaku ketua dan Sem Uaga sebagai sekretaris Asosiasi 328 Kepala Kampung, dengan tuntutan terkait pergantian 328 kepala kampung/desa. Sekitar pukul 08.00 WIT, massa mulai berkumpul di Jalan Yos Sudarso, tepat di depan Menara Salib Wamena, berhadapan langsung dengan Kantor Bupati Jayawijaya. Massa membawa pamflet dan selebaran, serta melakukan konsolidasi sebelum bergerak menuju kantor bupati.

Massa Bawa Senjata Tajam, Paksa Masuk Halaman Kantor
Pada pukul 08.30 hingga 09.00 WIT, penanggung jawab aksi mulai melakukan orasi dan memaksa masuk ke halaman kantor bupati, meskipun pintu pagar masih tertutup. Penutupan pagar dilakukan pihak keamanan lantaran massa diketahui membawa alat tajam seperti parang, panah, serta benda berbahaya lainnya.

Wakil Bupati Jayawijaya sempat berkoordinasi dengan aparat keamanan dan mengarahkan agar dilakukan penyitaan alat-alat tajam demi menjaga ketertiban aksi. Namun, sekitar pukul 09.00–09.30 WIT, massa justru menyerobot aparat keamanan dan tetap masuk ke halaman kantor tanpa mengindahkan arahan tersebut.

Situasi Memanas Saat Wakil Bupati Menyampaikan Tanggapan
Sekitar pukul 10.00 WIT, Wakil Bupati Jayawijaya bersama Sekretaris Daerah dan sejumlah kepala OPD serta ASN telah bersiap di depan kantor untuk menerima aspirasi massa. Aksi dipandu oleh Ason Tabuni sebagai moderator, disertai orasi dari para penanggung jawab aksi.

Ketika Wakil Bupati mulai memberikan tanggapan, situasi berubah ricuh. Sejumlah massa melakukan interupsi keras, membentak dengan kata-kata provokatif, serta menolak mendengarkan penjelasan. Ketegangan meningkat ketika beberapa orang diduga provokator maju ke arah Wakil Bupati.
Massa kemudian bergerak menyerobot Wakil Bupati dan staf, memicu upaya penyelamatan diri. Wakil Bupati bersama staf ASN terpaksa mundur dan masuk ke dalam kantor melalui tangga darurat, lalu bersembunyi di lantai tiga.
Wakil Bupati Dikejar dan Dilempari Batu.

Dalam situasi tersebut, massa melakukan pelemparan batu, membawa senjata tajam, serta mengejar Wakil Bupati hingga ke dalam kantor. Satpol PP dan Polisi Baliem berupaya mengendalikan massa, namun beberapa orang berhasil menerobos hingga ruang utama kantor bupati.
Massa kemudian melampiaskan emosi dengan merusak fasilitas kantor, termasuk kaca pintu utama, kaca jendela ruang transit Wakil Bupati di lantai dua, serta mobil dinas Wakil Bupati.
Wakil Bupati sempat hendak menuju ruang kerjanya, namun ruangan dalam keadaan terkunci, sehingga ia bersembunyi di ruang Kominfo lantai tiga selama kurang lebih 30 menit hingga situasi dinyatakan relatif aman.

Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP., M.KP., Mengatakan “Kecewa Berat, Penyerangan Kantor Bupati Wamena, Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap kinerja kepolisian, khususnya Polres Jayawijaya, terkait penanganan kasus penyerangan Kantor Bupati Jayawijaya yang disertai dugaan rencana pembunuhan terhadap dirinya”.

“Wabup Ronny Elopere menegaskan, peristiwa tersebut terjadi saat aksi yang awalnya diberitahukan sebagai demo damai oleh perwakilan dari ratusan kampung. Namun fakta di lapangan justru berbanding terbalik.
“Sejak awal sudah ada pemberitahuan bahwa ini aksi damai. Tapi kenyataannya tidak demikian. Massa membawa batu, rantai, parang, dan berbagai benda berbahaya lainnya. Ini jelas bukan demo damai,” tegas wakil Bupati Jayawijaya.
Menurutnya, ia telah berulang kali meminta Kapolres agar melakukan penyaringan ketat terhadap massa aksi, khususnya melarang masuknya alat tajam dan benda berbahaya ke area kantor bupati.
“Saya sampaikan sampai lima kali kepada Kapolres agar dilakukan pemeriksaan ketat. Tapi semua itu diabaikan. Massa tetap masuk tanpa seleksi,” ujarnya.

Tidak Ada Perlindungan Saat Situasi Memanas Wabup Ronny Elopere juga mengatakan “sikap aparat kepolisian saat situasi di dalam kantor mulai tidak terkendali, ia tidak mendapatkan perlindungan maksimal, berbeda dengan pengamanan pada aksi-aksi demonstrasi lainnya.
“Biasanya polisi berdiri tepat di belakang pejabat dengan tameng lengkap. Tapi saat itu justru berada jauh, sekitar 10 meter. Yang dekat dengan saya hanya Satpol PP,” kata Wabup Ronny Elopere.

Situasi semakin memburuk ketika massa mulai berteriak, mengancam, dan melempar benda keras. Kaca mobil dinas dan fasilitas kantor bupati dilaporkan rusak.Wakil Bupati Ronny Elopere bahkan harus menyelamatkan diri melalui pintu darurat dan bersembunyi di lantai atas gedung.
“Mereka mengejar sampai ke dalam gedung. Saya naik lewat pintu darurat dan sembunyi. Saat itu tidak ada polisi yang mengamankan saya,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada 5 September, namun hingga kini wabup Ronny Elopere menyebut tidak ada kejelasan hukum atas kasus tersebut.

“Sampai sekarang tidak ada perkembangan. Tidak ada penetapan tersangka yang jelas. Ini saya nilai sebagai pembiaran,” tegasnya.

Ia membandingkan lambannya penanganan kasus ini dengan kasus kriminal lain yang menurutnya bisa ditangani dengan cepat.

“Kasus pencurian, perampokan, atau isu tertentu bisa cepat ditangani. Tapi ini saya, kepala daerah, diancam dan diserang di kantor sendiri, justru dibiarkan,” katanya.

Minta Kapolri Turun Tangan, Atas kondisi tersebut, Ronny Elopere secara terbuka meminta Kapolri dan Mabes Polri untuk turun tangan langsung menangani kasus ini.

“Saya sudah tidak percaya lagi dengan penanganan di tingkat Polres. Demi wibawa negara, kasus ini harus diambil alih Mabes Polri,” ujarnya.

Wabup Ronny Elopere bahkan menilai Kapolres Jayawijaya tidak mampu menjalankan tugas, dan mendesak adanya evaluasi serius.

“Kalau aparat tidak mampu melindungi kepala daerah di kantor pemerintahan, ini berbahaya. Saya minta Kapolres harus tegas ,” katanya

“Pergantian kepala kampung bukan warisan turun-temurun. Itu bisa dilakukan kapan saja berdasarkan kinerja,” jelasnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah berupaya memastikan dana desa benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi.
“Kalau dana desa dipakai beli mobil, bangun rumah di kota, dan tidak kembali ke masyarakat, itu yang kami benahi,” tutup Wabup Ronny

Setelah itu, Wakil Bupati dan staf dievakuasi oleh Kasat Intelkam Polres Jayawijaya menggunakan kendaraan dinas dan diantar ke kediamannya di Distrik Pelebaga.
Dugaan Ancaman Serius terhadap Wakil Bupati

Dalam kejadian tersebut, terdapat sejumlah dugaan ancaman serius, antara lain:
Wakil Bupati dikejar massa yang membawa besi, pisau, dan rantai
Tidak adanya pengamanan melekat terhadap Wakil Bupati
Penanggung jawab aksi gagal mengendalikan massa
Arahan penyitaan senjata tajam tidak dipatuhi Identitas Terduga Pelaku Aksi Anarkis.

Sejumlah nama disebut sebagai terduga pelaku dalam aksi anarkis tersebut:
Warto Yikwa
Distrik Molagalome, Kampung Ukwa (Eks Kepala Kampung)
Diduga menantang dan mengejar Wakil Bupati hingga ke dalam kantor serta sebelumnya terlibat pembakaran gapura kantor distrik.

Demas Elopere
Distrik Taelarek, Kampung Yoman Weyak
Diduga merusak mobil dinas Wakil Bupati dengan rantai, memecahkan kaca, dan membawa senjata tajam jenis sangkur.

Yulius Huby
Distrik Musalfak, Kampung Musalfak
Diduga mengejar Wakil Bupati sambil membawa besi sepanjang kurang lebih satu meter.

Yawatinus Tabuni
Distrik Tagime, Kampung Yambapura (Eks Kepala Kampung)
Diduga mengejar Wakil Bupati hingga ke dalam kantor dan hendak melakukan tindakan kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *