Bogor, Centang Satu.Com – Di balik julukan sebagai kota hujan yang dingin dan hijau, Bogor menyimpan denyut kehidupan lain yang terus bergerak: kesenian. Musik, sastra, teater, hingga seni rupa tumbuh di berbagai sudut kota dan kabupaten, berakar pada tradisi Sunda sekaligus bersentuhan dengan dinamika kehidupan urban yang kian kompleks.
Potret tersebut mengemuka dalam Lingkar Diskusi Kebudayaan Sawala Dasa Wacana #8 yang digelar pada Sabtu sore, 10 Januari 2026, bertempat di Komplek Edukasi Putra Bangsa, Cijeruk, Kabupaten Bogor. Diskusi berlangsung dalam suasana akrab dan melingkar, jauh dari kesan formal, membuka ruang dialog yang cair antar pelaku dan pemerhati seni.
Mengangkat tema “Menimbang Atmosfir Kreatif Kesenian Bogor 2025, Menuju Resolusi 2026”, forum ini menghadirkan Putra Gara selaku Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor (DKKB), Aan Handayani (musisi dan pegiat seni), serta Rahmat Iskandar (pemerhati seni budaya dan sejarah). Kegiatan ini diinisiasi oleh Daya Putra Bangsa dengan Heri Cokro sebagai tuan rumah.
Putra Gara mengawali diskusi dengan menyoroti tumbuhnya komunitas seni Bogor yang belakangan justru berkembang dari ruang-ruang alternatif dan inisiatif mandiri. Menurutnya, semangat kolektif dan keberanian bereksperimen menjadi ciri kuat ekosistem seni lokal saat ini. “Kesenian di Bogor tumbuh dari kegigihan, bukan dari kemapanan,” ujarnya.
Namun di balik geliat tersebut, Putra Gara menilai fondasi ekosistem kesenian masih rapuh. Minimnya ruang berekspresi, kurangnya dukungan berkelanjutan, serta absennya sistem yang berpihak pada proses kreatif menjadi persoalan yang terus berulang. “Atmosfirnya hidup, tetapi belum kokoh,” katanya.
Ia juga menyoroti kecenderungan kesenian yang masih sering diposisikan sebagai agenda seremonial. Seni hadir pada momen-momen tertentu, lalu kembali sunyi. Padahal, kesenian idealnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan sekadar pelengkap acara formal.
Pandangan tersebut diamini peserta diskusi yang datang dari latar beragam, mulai dari seniman lintas generasi, pemerhati budaya, warga sekitar, hingga komunitas ibu-ibu berkebaya. Dari percakapan yang mengalir, muncul satu benang merah: masih adanya jarak antara komunitas seni dan birokrasi pemerintahan.
Relasi yang terbangun kerap diliputi prasangka. Seniman menilai birokrasi terlalu kaku dan kurang peka terhadap dinamika kreatif, sementara birokrasi belum memiliki peta yang utuh tentang potensi kesenian, pelaku, serta dampak sosial kerja-kerja seni. Hubungan yang terjalin pun lebih bersifat administratif, belum berkembang menjadi kemitraan yang setara.
“Dialog kebudayaan sering berhenti di permukaan,” ungkap Prasetya, salah satu peserta diskusi. Tanpa keterbukaan dan kepercayaan, ia menilai kebijakan kebudayaan berisiko lahir tanpa pijakan realitas di lapangan.
Meski demikian, para peserta menyadari bahwa diskusi ini belum dimaksudkan sebagai potret menyeluruh kesenian Bogor. Forum ini lebih dilihat sebagai fragmen awal, terutama bagi mereka yang masih membaca lanskap kebudayaan Bogor dari sudut pandang pendatang baru.
Dalam konteks tersebut, Sawala Dasa Wacana diposisikan sebagai ruang temu dan refleksi bersama, dengan semangat silih asih, silih asah, silih asuh—membangun dialog yang setara dan saling menguatkan antara seniman, warga, dan pemangku kebijakan.
Putra Gara menyebut diskusi ini juga relevan dalam menyambut rencana pembentukan Dinas Kebudayaan di bawah pemerintahan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Ia mendorong agar hasil diskusi dirangkum sebagai masukan kebijakan, termasuk disampaikan melalui kanal Lapor Pak Bupati sebagai bagian dari visi “Bogor Istimewa”.
“Ini pekerjaan rumah bersama,” ujarnya. Menurutnya, resolusi kebudayaan tidak cukup dirumuskan di ruang rapat atau panggung seremoni. Dibutuhkan keberanian mengakui kerentanan ekosistem seni, kesediaan mendengar suara akar rumput, serta komitmen jangka panjang untuk merawat proses kreatif.
Diskusi sore itu ditutup tanpa kesimpulan final. Namun satu pesan menguat: jika kesenian ingin tumbuh berkelanjutan di Bogor, relasi antara seniman, masyarakat, dan birokrasi harus bergerak melampaui saling curiga menuju dialog yang terbuka, jujur, dan saling menguatkan. Seperti hujan yang setia menyirami Bogor, kesenian pun memerlukan perawatan yang sabar agar terus hidup dan memberi makna.



















