JAKARTA,CentangSatu.com — Ada rindu yang tidak menuntut kepulangan, tidak pula memaksa jawaban. Ia hadir sebagai jeda: pelan, hangat, dan jujur. Rindu semacam itu biasanya muncul ketika hari mulai sunyi, ketika layar ponsel meredup, dan seseorang akhirnya punya ruang untuk mendengar isi kepalanya sendiri. Dari ruang itulah Angel Pieters kembali menyapa pendengar lewat single terbarunya berjudul Rindu.
Dirilis pada 26 Januari 2026, Rindu menjadi penanda kembalinya Angel Pieters ke industri musik dengan pendekatan yang matang dan tenang. Lagu pop balada ini memilih keheningan ketimbang dramatika, serta kejujuran rasa dibandingkan ungkapan-ungkapan emosional yang berlebihan. Rindu tidak mengajak pendengarnya untuk segera sembuh atau melupakan, melainkan menemani tanpa menghakimi.
Ditulis bersama Clara Riva, Rindu memaknai kerinduan bukan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan, tetapi diakui dengan lembut. Lagu ini berbicara tentang kehangatan yang pernah hadir, lalu berubah oleh jarak dan keadaan, meninggalkan jejak memori yang perlahan dipahami seiring waktu.
“Rindu buat aku adalah lagu tentang keberanian untuk mengakui rasa, tanpa harus memaksa hasil akhirnya,” ujar Angel Pieters. “Kadang kita tidak butuh jawaban. Kita hanya ingin jujur pada perasaan sendiri. Rindu tidak selalu meminta penyelesaian; ia bisa diakui, lalu diletakkan dengan aman dalam diri kita.”
Single ini dirilis di bawah naungan Nocturne Record, rumah kreatif yang berdiri sejak 2025 dan memandang musik sebagai medium cerita, perasaan, dan identitas. Pendekatan Nocturne yang mengedepankan kedalaman emosi dan kejujuran artistik terasa sejalan dengan karakter Rindu yang intim dan reflektif.
Secara lirik, Rindu menangkap fase kedewasaan dalam mencintai ketika seseorang mampu membedakan antara merindukan dan memiliki. Lagu ini tidak menyorot perpisahan yang penuh luka terbuka, melainkan momen-momen kecil yang sering tak terucap: rasa kangen, ingatan yang masih disimpan, dan kehangatan yang pernah membuat hari terasa lebih ringan.

“Di situlah kekuatannya,” kata Angel. “Rindu di sini bukan rayuan untuk kembali, melainkan pengakuan paling manusiawi bahwa ada bagian hidup yang pernah indah dan tetap layak dirawat dalam ingatan.”
Proses produksi Rindu digarap dengan pendekatan musikal yang mengutamakan rasa. Permainan piano Trinanda Imawan Wibisono menjadi fondasi emosi lagu, mengalir seperti langkah pelan yang memberi ruang napas di antara lirik dan melodi. Pefiri mengisi drums dan programming dengan denyut yang stabil, menjaga emosi tetap hidup tanpa memaksa.
Lapisan orkestra dari Fame’s Project menambah tekstur emosional yang lembut, digarap oleh Marthin Tupanno dan direkam oleh Aryo Seto di Artsound Studio. Sentuhan harpa dari Rama Widi hadir sebagai detail kecil yang rapuh namun berkilau seperti ingatan yang tiba-tiba muncul tanpa dicari. Proses rekaman vokal dilakukan di 909 Studio dengan Ogi Lugas sebagai vocal engineer, arahan vokal oleh Barsena Besthandi, mixing oleh Eko Sulistiyo, dan mastering oleh Bennytho Siahaan.
Visual Rindu diterjemahkan melalui video musik yang disutradarai sekaligus diedit oleh Reuben Tourino, dengan Angel Pieters bertindak sebagai produser. Nuansa visualnya selaras dengan lagu: intim, tenang, dan reflektif. Identitas visual rilisan ini diperkuat oleh Artnivora, memastikan estetika Rindu terasa konsisten dari artwork hingga materi pendukung.
“Semua elemen tidak dibuat untuk memamerkan kerumitan,” ungkap Angel. “Tujuannya membangun atmosfer agar pendengar seperti diajak duduk sejenak, menatap ke dalam, lalu menghela napas panjang tanpa harus menjelaskan apa-apa.”
Melalui Rindu, Angel Pieters kembali menegaskan posisinya sebagai penyanyi pop dewasa yang mengutamakan ketulusan dalam berkarya. Dengan perjalanan karier yang panjang, ia dikenal sebagai vokalis yang tidak hanya mengandalkan teknik, tetapi juga kemampuan menghidupkan cerita melalui interpretasi yang dalam.
Single Rindu kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital. Lagu ini diharapkan dapat menjadi ruang sunyi bagi siapa pun yang pernah merindukan seseorang, sebuah masa, atau bahkan versi diri sendiri yang dulu pernah begitu dikenal versi yang pernah percaya, berharap, dan pulang dengan hati yang penuh.


















