Aglow Pictures Rilis Film Horor Legenda “WARU”, Angkat Teror Pohon Misterius
Jakarta — Aglow Pictures resmi memperkenalkan film horor terbaru berjudul “WARU”, sebuah film horor legenda yang mengangkat mitos tentang pohon Waru sebagai pusat teror. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 12 Februari 2026.
Disutradarai oleh Chiska Doppert dan diproduseri oleh Aji Fauzi, “WARU” menghadirkan pendekatan horor yang berbeda dengan menitikberatkan pada atmosfer, ketegangan psikologis, dan konflik keluarga.
Teror Pohon yang “Hidup”
Sutradara Chiska Doppert menjelaskan bahwa kekuatan utama film ini bukan pada sosok hantu semata, melainkan pada bagaimana pohon Waru diposisikan sebagai karakter penting dalam cerita.
“Pohon Waru bukan hanya simbol, tapi menjadi karakter utama. Terornya tidak selalu terlihat, tapi terus terasa. Ketegangannya datang dari suasana dan konflik keluarga yang dialami para tokohnya,” ujar Chiska.
Ia juga menambahkan bahwa film ini terinspirasi dari berbagai mitos yang dekat dengan masyarakat, meski keseluruhan ceritanya bersifat fiksi.
“Ini fiksi, tapi akarnya dari kepercayaan yang sering kita dengar. Bagaimana manusia saat putus asa cenderung mencari jalan pintas, tanpa memikirkan konsekuensinya,” tambahnya.
Tantangan Para Pemain
Film “WARU” dibintangi oleh deretan aktor lintas generasi dan lintas negara, antara lain Bella Graceria, Zikri Daulay, Jinan Safa, Dewi Amanda, Josiah Hogan, Sharifah Husna, Sean Mikail, Yatti Surachman, serta penampilan khusus penari Mila Cheah.
Aktris Bella Graceria mengaku karakter yang ia perankan sangat berbeda dengan kepribadiannya di dunia nyata.
“Ini karakter yang benar-benar bertolak belakang dengan aku. Secara emosional cukup berat, tapi justru itu yang bikin menantang,” ujar Bella.
Sementara itu, aktor Zikri Daulay menyebut bahwa film ini lebih banyak bermain di ketegangan batin dibandingkan teror visual.
“Banyak adegan yang tidak menampilkan apa-apa, tapi justru bikin merinding karena suasananya. Itu yang menurut saya jadi kekuatan ‘Waru’,” kata Zikri.
Aktris asal Malaysia Sharifah Husna juga merasakan perbedaan besar saat bermain di film horor Indonesia.
“Di Malaysia saya pernah main horor komedi, lebih banyak ketawa. Tapi di ‘Waru’ ini benar-benar serius dan menegangkan, saya sampai takut sendiri waktu shooting,” ungkapnya.
Lokasi Mistis & Proses Panjang
Proses syuting dilakukan di beberapa daerah seperti Bogor, Sukabumi, dan Solo, dengan latar pohon asli dan suasana alam yang mendukung nuansa mistis.
Chiska mengungkapkan, salah satu lokasi di Solo bahkan memiliki makam tua di sekitar pohon Waru.
“Sebelum syuting kami sempat doa bersama dulu. Bukan karena takut berlebihan, tapi lebih ke menghormati tempat,” ujarnya.
Tahap pascaproduksi film ini memakan waktu hingga enam bulan, terutama untuk penggarapan efek visual dan tata suara agar atmosfer terasa maksimal.
Harapan untuk Penonton
Produser Aji Fauzi berharap “WARU” bisa memberi pengalaman horor baru bagi penonton Indonesia.
“Kami ingin penonton tidak hanya takut, tapi juga ikut merasakan emosi para karakter. Horornya bukan cuma jump scare, tapi lebih ke rasa tidak nyaman yang bertahan,” kata Aji.
Sutradara Chiska pun menutup dengan harapan serupa.
“Semoga ‘Waru’ bisa diterima dan memberi kesan berbeda. Bukan hanya menakutkan, tapi juga meninggalkan bekas setelah keluar dari bioskop.”
Film “WARU” tayang di bioskop Indonesia mulai 12 Februari 2026.


















