Bogor, Centang Satu. Com – Hujan turun perlahan di Kp Pasirangin, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor Selasa sore itu. Jalanan basah, udara dingin, dan langit kelabu tak menghalangi langkah sekitar dua puluh anak muda Bogor Raya yang datang satu per satu ke Kompleks Edukasi Putra Bangsa. Di sebuah ruangan sederhana, mereka duduk melingkar, membawa satu semangat yang sama: berbicara tentang masa depan daerahnya.
Forum itu bernama Sawala Dasa Wacana, sebuah ruang diskusi rutin yang digelar setiap tanggal 10. Pada edisi ke-9 ini, tema yang diangkat terasa lebih reflektif:
“Quo Vadis Gerakan Pemuda Bogor dan Kontribusinya terhadap Pembangunan Daerah.”
Bagi para peserta, diskusi ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi ruang aman untuk bertanya, mengkritik, sekaligus merumuskan arah perjuangan kaum muda di tengah pesatnya pembangunan yang belum sepenuhnya adil dan merata.

Pemuda dan Wajah Masa Depan Bogor
Heri Cokro, tuan rumah sekaligus penggagas Sawala, membuka forum dengan nada tegas namun penuh harap. Menurutnya, pemuda tak lagi cukup hanya menjadi penonton dari berbagai perubahan yang terjadi di Bogor.
“Pemuda adalah agent of change, social control, dan moral force. Tiga peran itu bukan slogan kosong, tapi tanggung jawab sejarah,” ujarnya.
Baginya, wajah Bogor di masa depan sangat ditentukan oleh keberanian generasi muda hari ini untuk bersuara, bergerak, dan berkolaborasi.
Diskusi pun mengalir. Beni Sitepu, Ketua Komunitas Pemuda Peduli (KPP) Bogor Raya, mengangkat persoalan konkret: jalan rusak yang cepat diperbaiki namun kembali hancur, proyek galian yang tak tertata, hingga penggunaan anggaran yang tak transparan.
“Kalau pemuda diam, ketimpangan akan terus berulang. Kita harus mengawal pembangunan, bukan hanya mengkritik, tapi memastikan perubahan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Pembangunan yang Tidak Melupakan Jati Diri
Di sisi lain, Yulia Nasari dari Daya Mahasiswa Sunda (Damas) mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar budaya. Menurutnya, kemajuan tanpa karakter hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan jati diri.
“Pembangunan sejati bukan hanya membangun jalan dan gedung, tapi membangun manusia yang berintegritas. Nilai kasundaan, sejarah, dan karakter harus menjadi fondasi,” tuturnya.
Pesan itu diamini oleh Andri Fadillah Alamsyah, Sekretaris Umum HMI Cabang Kota Bogor. Ia melihat pemuda sebagai estafet kepemimpinan yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
“Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Kita harus belajar, meningkatkan kapasitas, dan tetap menghargai generasi sebelumnya agar tidak kehilangan arah,” katanya.
Ruang Kecil, Harapan Besar
Sore menjelang, hujan masih setia menemani. Namun di dalam ruangan, suasana justru semakin hangat. Rani, siswi kelas XI SMK Sirojul Huda 3, memberanikan diri menyampaikan pandangannya tentang pentingnya ruang diskusi bagi generasi muda. Sementara Naryana Indra, yang mewakili generasi senior, memberikan catatan kritis tentang konsistensi gerakan pemuda agar tidak mudah terpecah.
Menjelang pukul 17.00 WIB, Sawala Dasa Wacana ditutup dengan satu kesepahaman: pemuda Bogor harus saling terhubung, saling menguatkan, dan bergerak bersama.
Di tengah hujan yang belum reda, para peserta pulang membawa lebih dari sekadar catatan diskusi. Mereka membawa harapan bahwa dari ruang kecil seperti ini, perubahan besar bisa bermula. Bahwa suara kaum muda, jika disatukan, mampu menjadi kekuatan untuk mewujudkan Bogor yang lebih layak huni, sejahtera, dan manusiawi.


















