Scroll untuk baca artikel
Sport

Dari Angka 13 Menuju Arah Baru Pembinaan Sepak Bola Jakarta

42
×

Dari Angka 13 Menuju Arah Baru Pembinaan Sepak Bola Jakarta

Sebarkan artikel ini

JAKARTA,CentangSatu.com — Angka 13 sering dilekati stigma kesialan. Namun pada Jumat, 13 Februari 2026, di markas Kandang Ayam, angka itu justru menandai dimulainya babak baru pembinaan sepak bola usia muda Jakarta.

Seusai workshop kompetisi, panitia mengumumkan program beasiswa bagi 14 pemain terbaik dari dua kelompok usia. Tujuh pemain dipilih dari Liga Soeratin Jakarta U-15, dan tujuh lainnya dari Liga Jakarta U-17.

Masing-masing pemain akan menerima beasiswa senilai Rp20 juta hingga Rp70 juta untuk masa pembinaan tujuh sampai sembilan bulan. Jika dijumlahkan, dana yang dialokasikan berkisar antara Rp240 juta hingga Rp540 juta. Di level kompetisi usia muda, angka tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan investasi nyata.

Penghargaan Berbasis Kinerja dan Karakter

Skema penerima beasiswa dirancang dengan parameter yang terukur. Penghargaan diberikan kepada pencetak gol terbanyak dan runner-up, pemain terbaik dan runner-up, kiper terbaik dan runner-up, serta satu pemain dengan akhlak dan sikap terbaik yang dipilih Komisi Wasit.

Format ini memperlihatkan bahwa kompetisi tidak hanya mengejar statistik, tetapi juga menimbang dimensi karakter. Pembinaan usia muda, pada akhirnya, bukan hanya soal teknik dan taktik, melainkan juga pembentukan mental serta etika bertanding.

Pendekatan tersebut menjadi relevan di tengah dinamika sepak bola usia dini yang kerap terjebak pada orientasi hasil. Kemenangan jangka pendek sering kali mengaburkan tujuan pembinaan jangka panjang.

Inisiatif dari Akar Pembinaan

Program ini diinisiasi oleh Zuchli Imran Putra, pendiri Diklat ISA Academy. Ia menilai banyak talenta muda terhambat bukan oleh kurangnya potensi, melainkan oleh keterbatasan akses pembiayaan dan fasilitas.

Beasiswa diharapkan menjadi jembatan bagi pemain untuk menapaki jenjang berikutnya, termasuk peluang menuju kompetisi profesional seperti BRI Liga 1 dan Liga Pegadaian Liga 2 musim 2026–2027.

Dalam konteks pembinaan nasional, langkah ini memperlihatkan pergeseran pendekatan: dari sekadar penyelenggaraan kompetisi menuju pembangunan ekosistem. Dukungan finansial yang terstruktur memberi ruang bagi pemain untuk fokus meningkatkan kualitas tanpa terbebani persoalan biaya.

Dua Kompetisi, Satu Orientasi

Liga Soeratin Jakarta U-15 dan Liga Jakarta U-17 kini berjalan berdampingan dengan orientasi yang sama: memperkuat fondasi pembinaan sepak bola ibu kota.

Selama sekitar 6,5 bulan ke depan, kedua ajang tersebut akan menjadi ruang seleksi yang ketat. Konsistensi performa, disiplin latihan, dan ketahanan mental akan menjadi variabel penentu.

Jumat, 13 Februari 2026, pada akhirnya bukan sekadar tanggal dalam kalender kompetisi. Ia menjadi penanda bahwa pembinaan usia muda mulai diarahkan dengan sistem yang lebih terukur, dukungan yang lebih konkret, serta visi yang lebih panjang.

Angka 13, setidaknya di Kandang Ayam, berubah makna dari mitos menjadi momentum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *