Scroll untuk baca artikel
Umum

Cloudy: Pulang dari Berlin, Menghidupkan Lagi “Arti Cinta” dengan Nafas Baru

15
×

Cloudy: Pulang dari Berlin, Menghidupkan Lagi “Arti Cinta” dengan Nafas Baru

Sebarkan artikel ini

JAKARTA,CentangSatu.com-|  Di tengah hiruk-pikuk lagu viral yang meledak semalam lalu tenggelam keesokan harinya, seorang musisi muda memilih jalan yang tidak biasa. Namanya Cloudy. Ia tidak datang dengan sensasi TikTok atau kontroversi murahan. Ia datang membawa partitur.

Bertahun-tahun ia ditempa di Berlin, Jerman kota yang akrab dengan simfoni, opera, dan disiplin klasik yang nyaris tanpa kompromi. Di sana ia belajar membedah komposisi Beethoven hingga Wagner. Musik, baginya, bukan sekadar bunyi, melainkan arsitektur rasa.

Namun pulang ke Indonesia ternyata tak sesederhana membeli tiket pesawat.

“Di Eropa saya dianggap terlalu Asia. Tapi begitu balik ke sini, saya dibilang kebarat-baratan,” Ujarnya dalam Press Conference di Hutan Kota Plataran,Senayan Jakarta,Sabtu(14/2)

Di situlah kegelisahan bermula. Ia seperti berdiri di dua dunia yang tak sepenuhnya menerima. Perfeksionisme klasik yang ia bawa dari Berlin sempat menjadi tembok tinggi setiap nada harus presisi, setiap frasa harus steril dari cela. Sampai akhirnya Jakarta “mengguncangnya”.

Ia menemukan bahwa musik tak selalu harus rapi seperti ruang konser. Musik bisa liar, hangat, bahkan sedikit berantakan asal jujur.

Dan dari kegelisahan itu, Cloudy melahirkan langkah pertamanya.

Valentine Tanpa Mawar, Hanya “Arti Cinta”

Tanggal 14 Februari 2026, ketika banyak orang sibuk dengan bunga dan cokelat, Cloudy memilih memberi kado yang lebih abadi: tafsir ulang lagu legendaris Arti Cinta yang dipopulerkan oleh Ari Lasso.

Langkah ini berani. Mengutak-atik lagu yang sudah melekat di memori publik bukan perkara ringan. Versi Ari Lasso dikenal dengan karakter rock yang tegas dan emosional. Cloudy justru memelankan napasnya.

Aransemen baru dibingkai minimalis dan akustik. Nada-nadanya lebih lembut, lebih intim, seperti percakapan di ruang tamu alih-alih teriakan di panggung arena. Ia tidak mencoba menandingi versi lama ia mengajaknya berdialog.

“Saya ingin lagu ini jadi jembatan,” ujar Cloudy.

“Anak muda bisa merasakan manis-pahitnya cinta. Yang lebih dewasa bisa kembali pada kenangan bahwa cinta dulu bukan cuma soal rasa, tapi juga tanggung jawab.”

Dapur Produksi yang Tidak Main-Main

Proyek ini bukan eksperimen iseng. Di belakangnya berdiri produser Seno M. Hardjo bersama Nur Satriatama (Satrio Alexa) yang meracik ulang aransemen dengan pendekatan kekinian tanpa menghilangkan ruh aslinya.

Eksekutif produser Farida Wijanarko pendiri Prabawa Entertainment Indonesia yang “mengetuk palu” keputusan remake ini. Hak lagu karya Ricky Five Minutes dan Ari Lasso dikantongi lewat Aquarius Pustaka Musik, memastikan langkah Cloudy berjalan dengan fondasi profesional.

Bagi Cloudy, ini bukan sekadar debut. Ini adalah pernyataan sikap.

Antara Tradisi dan Generasi Baru

Cloudy mengaku mengidolakan Chrisye legenda yang membuktikan bahwa kelembutan bisa lebih tajam dari teriakan. Dari sana ia belajar bahwa kualitas tak pernah lekang oleh zaman.

Ia tidak menolak modernitas, tetapi juga tak meninggalkan akar. Pendidikan klasiknya memberi disiplin; Jakarta memberinya keberanian untuk merasa.

Di tengah industri yang serba cepat dan serba instan, Cloudy memilih merawat lagu. Ia tidak sekadar ingin didengar ia ingin diingat.

Apakah ia akan menjadi nama besar berikutnya di industri musik Indonesia? Waktu yang akan menjawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *