Scroll untuk baca artikel
Umum

Menantang Maut di Ketinggian, Kisah “Tentara Langit” Penjaga Sinyal Telekomunikasi

8
×

Menantang Maut di Ketinggian, Kisah “Tentara Langit” Penjaga Sinyal Telekomunikasi

Sebarkan artikel ini

Bogor, Centang Satu.Com – Tower Base Transceiver Station (BTS) menjadi salah satu infrastruktur vital dalam dunia telekomunikasi. Di balik kuatnya sinyal yang dinikmati masyarakat, ada peran para pekerja yang mempertaruhkan nyawa di ketinggian. Mereka dikenal dengan sebutan “tentara langit” atau tower climber.

 

Rizki Nugraha (34), yang akrab disapa Kiki, adalah salah satu tentara langit asal Bandung. Selama 14 tahun terakhir, ia telah menggeluti profesi yang tak semua orang berani melakukannya.

“Kami bekerja menantang maut di ketinggian hingga 102 meter bahkan bisa lebih. Demi orang banyak bisa menikmati sinyal yang baik,” ujar Kiki kepada Centang Satu.Com saat ditemui dikawasan Cisarua Bogor.(21/2/26)

Menurutnya, pekerjaan membangun maupun melakukan perawatan tower BTS bukan sekadar soal fisik, tetapi juga mental dan fokus tinggi. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.

“Kami mempertaruhkan nyawa di pekerjaan ini. Saat berangkat, yang kami minta hanya doa dari keluarga agar bisa pulang lagi ke rumah dengan selamat. Karena area kerja kami bisa di seluruh wilayah Indonesia,” tuturnya.

Tak jarang, Kiki dan tim harus menginap di bawah tower sebelum pekerjaan dinyatakan selesai. Kondisi cuaca pun menjadi tantangan tersendiri. Hujan dan angin kencang kerap menghambat proses pekerjaan, sekaligus meningkatkan risiko keselamatan.

Meski penuh risiko, ada kepuasan tersendiri yang dirasakan Kiki. “Sukanya kalau pekerjaan cepat selesai. Sedangkan dukanya kalau pekerjaan tidak selesai karena hujan terus,” pungkasnya.

Di balik sinyal yang stabil dan komunikasi yang lancar, ada para tentara langit yang bekerja dalam senyap, memanjat tinggi demi menjaga konektivitas negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *