Scroll untuk baca artikel
Nasional

Sumsel Berduka, Alex Noerdin Wafat: Warisan Kebijakan dan Kepemimpinan Dikenang

6
×

Sumsel Berduka, Alex Noerdin Wafat: Warisan Kebijakan dan Kepemimpinan Dikenang

Sebarkan artikel ini

Jakarta,CentangSatu.com-| Sumatera Selatan kembali diselimuti kabar duka. Mantan Gubernur Sumatera Selatan dua periode, Alex Noerdin, meninggal dunia di RS Siloam Jakarta, Rabu (25/2) pukul 13.30 WIB.

Kepergian tokoh yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari dinamika pembangunan di Sumsel itu mengejutkan banyak pihak. Di mata sebagian masyarakat, Alex bukan sekadar pejabat publik, melainkan simbol birokrat yang tumbuh dari bawah dan menapaki tangga kepemimpinan secara bertahap.

Lahir di Palembang, 9 September 1950, Alex merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan H. Muhamad Noerdin Pandji dan Hj. Siti Fatimah. Nilai nasionalisme yang kuat diwarisi dari sang ayah, seorang pejuang kemerdekaan, menjadi fondasi dalam perjalanan hidupnya.

Pendidikan dasar hingga menengah ia selesaikan di Palembang. Setelah lulus SMA pada 1969, ia merantau ke Jakarta. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti dan meraih gelar insinyur. Setahun berselang, ia menyelesaikan studi hukum di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan memperoleh gelar sarjana hukum. Latar belakang teknik dan hukum itu kelak membentuk pendekatan kepemimpinannya yang sistematis sekaligus politis.

Kariernya dimulai sebagai pegawai negeri sipil pada 1981 di Bappeda Sumatera Selatan. Dari staf, ia menapaki posisi demi posisi: Kepala Seksi Perhubungan dan Pariwisata, Kepala Cabang Dinas Pariwisata di Palembang dan Musi Banyuasin, hingga Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang.

Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Bappeda Kota Palembang, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel, hingga Sekretaris Daerah Kabupaten Musi Banyuasin. Rangkaian jabatan itu membentuk reputasinya sebagai birokrat teknokratis yang memahami detail tata kelola pemerintahan.

Momentum politiknya menguat ketika ia terpilih sebagai Bupati Musi Banyuasin dua periode (2001–2006 dan 2007–2012). Di tingkat kabupaten inilah sejumlah kebijakan populisnya lahir, termasuk program Berobat Gratis dan Sekolah Gratis yang kala itu disebut-sebut sebagai terobosan pertama di Indonesia.

Pada 2008, ia melangkah ke panggung lebih besar. Alex Noerdin terpilih sebagai Gubernur Sumatera Selatan periode 2008–2013, kemudian kembali dipercaya untuk periode 2013–2018. Selama satu dekade memimpin Sumsel, ia dikenal agresif mempromosikan daerah, memperluas infrastruktur, dan mendorong Sumsel tampil dalam berbagai agenda nasional.

Di ranah politik, ia menjadi figur penting di Partai Golkar Sumatera Selatan, memperkuat posisi partai tersebut sebagai salah satu kekuatan dominan di daerah.

Kepergiannya meninggalkan jejak panjang baik berupa kebijakan, infrastruktur, maupun generasi pemimpin daerah yang lahir pada masa kepemimpinannya. Di tengah pro dan kontra yang kerap menyertai perjalanan politik seorang tokoh, publik Sumsel kini mengenang satu hal yang sama: dedikasi panjang seorang birokrat yang meniti jalan pengabdian sejak awal kariernya.

Sumatera Selatan berduka. Dan sejarah daerah ini akan selalu mencatat nama Alex Noerdin sebagai salah satu bab penting dalam perjalanan pembangunannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *