Scroll untuk baca artikel
Umum

Merajut Angka dan Aksara di Bulan Suci

73
×

Merajut Angka dan Aksara di Bulan Suci

Sebarkan artikel ini

Bogor, Centang Satu.Com – Suasana Minggu pagi di Komplek Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, terasa berbeda. Di pekan kedua bulan suci Ramadhan, sekitar 50 anak duduk rapi dengan mata berbinar. Di tangan mereka, ada pensil dan buku tulis. Di hadapan mereka, papan tulis penuh angka dan guratan indah huruf-huruf Arab.

Ramadhan Ceria Putra Bangsa kembali digelar, menghadirkan kursus matematika dan workshop kaligrafi dengan tema “Islam Pelopor Matematika dan Peradaban Dunia.” Tema itu bukan sekadar slogan, melainkan jembatan yang menghubungkan logika dan rasa, akal dan iman.


Dalam sesi matematika, anak-anak diajak menyelami konsep dasar angka dan logika melalui metode yang menyenangkan dan interaktif. Tawa sesekali pecah ketika soal disajikan dalam bentuk permainan. Namun di balik keceriaan itu, terselip pemahaman mendalam tentang keteraturan.
Mulyadi, sang pemateri, menanamkan gagasan bahwa matematika bukan sekadar hitungan, melainkan cara membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan. “Melalui matematika, kita bisa menumbuhkan keimanan secara rasional sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Anak diajak menghubungkan konsep presisi dan keteraturan dalam matematika dengan ciptaan Allah yang sangat matematis,” ujarnya.

Bagi anak-anak itu, angka-angka tak lagi terasa kaku. Ia menjadi bahasa yang menjelaskan harmoni alam—dari peredaran bulan hingga susunan bunga. Matematika menjelma menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa dunia diciptakan dengan ukuran dan ketepatan.

Di ruang lain, suasana tak kalah khidmat. Ujung-ujung pena menari membentuk lengkungan dan garis tegas dalam workshop kaligrafi. Dipandu Heri Cokro, pembina Yayasan Daya Putra Bangsa, para peserta diperkenalkan pada seni sebagai warisan agung peradaban Islam.

Goresan demi goresan tak hanya melatih kesabaran, tetapi juga rasa cinta pada keindahan. “Islam sejatinya tidak menolak seni. Seni berkembang dan memberi kontribusi dalam peradaban dunia seperti arsitektur, pola geometris arabesque, musik, sastra, dan tari yang tumbuh dalam naungan nilai keislaman,” tutur Heri. Baginya, seni adalah sarana membangun kebaikan dan memperindah kehidupan, termasuk dalam konteks lokal Nusantara.

Ramadhan Ceria bukan hanya tentang satu atau dua kegiatan. Program yang diinisiasi Yayasan Daya Putra Bangsa ini merangkai pengajian, dongeng, Sawala Dasa Wacana edisi Ramadhan, hingga santunan bagi yatim, dhuafa, dan ibnu sabil. Semua dirancang sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda.
Ketua panitia, Isti Wuryanti, berharap kegiatan yang kini memasuki tahun ketiga ini terus menjadi kontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan umat. Edukasi sejak dini, menurutnya, adalah investasi jangka panjang bagi masa depan.

Di tengah kesederhanaan Kampung Pasirangin, angka dan aksara berpadu dalam semangat Ramadhan. Anak-anak belajar bahwa iman dapat didekati dengan logika, dan keindahan bisa lahir dari ketekunan. Di sanalah, peradaban kecil sedang dirintis—dimulai dari ruang belajar yang hangat dan hati yang diterangi cahaya ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *