JAKARTA,CentangSatu.com — Dunia modeling anak kembali kedatangan bintang baru. Di ajang Yapmi 2025, perhatian para juri dan penonton tertuju pada seorang peserta mungil yang tampil penuh percaya diri: Kayla Nadhifa Almaira, gadis 7 tahun dari Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
Kayla menjadi peserta termuda di kategori Kids B Mom and Kids, namun justru keberaniannya yang membuat banyak orang kagum. Ia tampil bersama sang ibu, Ningsih Samir, yang tak menyembunyikan rasa haru atas performa putrinya.
“Awalnya saya sempat grogi karena peserta lain usianya di atas Kayla semua. Tapi melihat keberaniannya, saya ikut terpacu,” ujar Ningsih.
Perjalanan Panjang Menuju Jakarta
Persiapan keduanya jauh dari kata instan. Latihan catwalk, latihan talenta, hingga sinkronisasi gerakan untuk penampilan mom and kid terus digarap. Dalam babak penampilan budaya, duo ibu-anak ini menghadirkan tari kreasi Bugis dengan balutan busana adat,sebuah pilihan yang mencerminkan identitas daerah mereka.
“Capek pasti ada, apalagi beberapa hari di Jakarta jadwalnya padat. Tapi Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana,” kata Ningsih.

Suara Kecil yang Penuh Mimpi
Meski menjadi yang paling muda, Kayla tampil ceria saat memperkenalkan diri.
“Halo, aku Kayla… aku mau menang, mau dapat sepeda listrik,” ujarnya dengan polos, membuat suasana hangat di ruang kompetisi.
Kayla juga bercerita tentang model favoritnya, menyebut nama-nama yang ia kagumi seperti Arzeti dan Barbie Kumalasari. Tak lupa ia memberi pesan sederhana namun kuat:
“Belajar terus ya… jangan menyerah.”ujarnya.
Dukungan Orang Tua Jadi Kunci
Bagi Ningsih, pencapaian anaknya bukan soal piala, melainkan keberanian untuk mencoba. Ia berharap orang tua lain juga mau memberi ruang bagi bakat anak mereka.
“Anak-anak punya potensinya masing-masing. Kita sebagai orang tua tinggal mendampingi. Butuh tenaga, waktu, bahkan biaya. Tapi itu bagian dari perjuangan untuk masa depan anak,” tegasnya.
Inspirasi dari Parepare untuk Indonesia
Kehadiran Kayla di panggung Yapmi menjadi pengingat bahwa talenta besar bisa datang dari mana saja, bahkan dari seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang percaya bahwa mimpinya bisa dimulai dari satu langkah sederhana.


















