Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Dewi Diadiva Menemukan Ruang Baru dalam Karya dan Kepedulian

121
×

Dewi Diadiva Menemukan Ruang Baru dalam Karya dan Kepedulian

Sebarkan artikel ini

JAKARTA,CentangSatu.com – Bagi Dewi Diadiva, dunia hiburan bukan sekadar panggung dan sorotan. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai sejak kanak-kanak, penuh liku, jeda, dan kini menemukan makna baru. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai penyanyi dan aktris lintas generasi, Dewi kembali melangkah kali ini melalui FTV horor dan konten mistis yang ia bangun dengan kesadaran dan pengalaman personal.

Karier Dewi dimulai jauh sebelum banyak orang mengenalnya. Ia mulai bernyanyi pada 1984, lalu mengikuti tes wajah baru pada 1982 Di tahun yang sama, lagu “Aku Pilih Kamu” ciptaan almarhum Daeng Jamal Purba menjadi penanda awal kiprahnya di industri musik. Sejak itu, dunia hiburan tumbuh bersama dirinya.

“Nyanyi adalah pintu pertama saya. Akting datang kemudian, tapi keduanya selalu berjalan beriringan,” tutur Dewi dalam sebuah perbincangan santai di studio LB Jakarta Timur,Sabtu(10/1)

Lahir pada 29 Juni di Jakarta, Dewi mulai aktif di dunia sinetron sejak 1995. Sejumlah judul seperti Bidadari Putih, Dia Antara Dua Sisi, hingga Kembali Padamu (2018) menjadi bagian dari fase penting perjalanan aktingnya. Di jalur musik, lagu-lagu seperti Cinta Jatuh Cinta, Tentangmu, Satu Cinta, dan Ada Dia dan Dia menegaskan posisinya sebagai penyanyi yang konsisten, tanpa hiruk-pikuk sensasi.

Kembali dengan Kesadaran Baru

Dewi memilih jalur yang lebih sunyi namun sarat makna. Ia mengembangkan FTV horor melalui Dewi Diadiva Production, bekerja sama dengan H. Fauzi Azam sebagai produser eksekutif, serta Jhon Edy dan Asyunda Ki Warga sebagai produser. Proyek ini disutradarai Asyunda Ki Warga, dengan Baja Alatas sebagai penata kamera.

“FTV horor ini adalah mimpi lama. Setelah sekian waktu, saya mencari ruang yang paling jujur untuk saya berkarya,” ujarnya.

FTV tersebut dibintangi M Hilal, Adit Mahesa, dan Dewi Diadiva, serta didukung aktor lain seperti Laras, Aan Gemini, Novel, dan Asep.

Mistis sebagai Ruang Edukasi

Pilihan Dewi pada genre mistis tidak lahir dari ketertarikan sesaat. Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil dirinya memiliki kemampuan indigo, yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.

“Saya ingin orang memahami dunia gaib dengan tenang dan benar. Bukan untuk ditakuti, apalagi dipelintir,” katanya.

Sejak usia dini, Dewi telah menjalani perjalanan spiritual di sejumlah tempat yang dianggap sakral, seperti Parangtritis, Parangkusumo, Goa Dewi Rengganis, Pelabuhan Ratu, hingga kawasan Pantai Selatan. Seluruh konten yang ia hadirkan, menurutnya, dibuat tanpa rekayasa.

Kepedulian yang Tak Pernah Dipamerkan

Di balik perjalanan seninya, Dewi Diadiva menyimpan sisi lain yang jarang diketahui publik. Selama 17 tahun, ia secara pribadi membiayai 70 anak yatim di berbagai daerah, tanpa publikasi dan tanpa sorotan.

“Mereka tetap tinggal bersama keluarga masing-masing. Saya hanya memastikan kebutuhan mereka terpenuhi,” ujarnya singkat.

Ke depan, Dewi berharap dapat menghadirkan satu ruang khusus untuk membina dan mendampingi anak-anak tersebut secara berkelanjutan.

Musik Tetap Menjadi Rumah

Meski kini fokus pada produksi dan akting, Dewi memastikan musik tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ia tengah menyiapkan proyek single kolaborasi dengan penyanyi lawas, serta merancang acara tembang kenangan sebagai ruang apresiasi bagi para musisi senior.

Menutup perbincangan, Dewi menyampaikan harapan sederhana namun mendalam.

“Industri hiburan akan selalu berubah. Tapi budaya, kejujuran, dan kualitas karya harus tetap dijaga,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *