JAKARTA,CentangSatu.com – Festival Film Horor (FFH) memasuki edisi ke-2 dengan semangat menjaga napas panjang genre horor nasional. Digelar sebagai festival bulanan, FFH kembali memberikan Nini Suny Award kepada film-film horor terpilih. Namun FFH bukan sekadar ajang penghargaan, melainkan ruang refleksi dan diskusi untuk masa depan perfilman Indonesia, khususnya genre horor.
Seperti penyelenggaraan sebelumnya, FFH Januari didahului diskusi publik bertema “Tren Film Horor 2026”. Diskusi ini menghadirkan lima pembicara lintas latar belakang: Syaifullah Agam (Direktur Film Kemendikbud), Nini L. Karim (dosen psikologi UI sekaligus artis senior), Arya Pramasaputra (mahasiswa pascasarjana IKJ), serta dua sutradara yang tengah menanti penayangan film horornya, Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas.
Kelima narasumber sepakat bahwa film horor Indonesia tidak boleh memandang remeh penontonnya. Menurut mereka, film horor yang baik adalah karya yang tetap membekas dua hingga tiga hari setelah ditonton, bukan sekadar menakut-nakuti sesaat lalu dilupakan.
“Horor harus berkembang, punya arah, dan mengikuti zaman. Kalau stagnan dan berputar di pola yang sama, perfilman kita bisa kembali suram seperti sebelum 2004,” ujar salah satu pembicara dalam diskusi tersebut.
Syaifullah Agam memaparkan data bahwa pada periode 2021–2023, film nasional bergenre horor dan komedi menjadi penyumbang penonton terbesar, dengan total mencapai lebih dari 128 juta penonton. Rata-rata satu judul film ditonton lebih dari 450 ribu orang.
Namun ia juga mengingatkan, belakangan jumlah penonton film horor menunjukkan tren penurunan. “Film horor adalah lokomotif perfilman nasional. Tapi tanpa terobosan, nasibnya bisa seperti film-film ‘berbau’ Islami yang pernah ditinggalkan penonton,” tegasnya.
Sementara itu, Nini L. Karim memilih menyebut genre ini sebagai film mistik. Menurutnya, film horor harus tetap berpijak pada akal sehat, dapat diterima secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. “Penonton membayar untuk ditakut-takuti, tapi mereka juga ingin masuk akal dan menyentuh hati,” ujarnya.
Di akhir acara, FFH mengumumkan para penerima Nini Suny Award Januari. Film Janur Ireng dinobatkan sebagai Film Terpilih, sekaligus mengantarkan Tora Sudiro sebagai Aktor Terpilih dan Kimo Stamboel sebagai Sutradara Terpilih.
Penghargaan Aktris Terpilih diberikan kepada Wavi Zihan lewat perannya dalam Qorin 2, sementara DOP/Cameraman Terpilih diraih Enggar Budiono untuk film Dusun Mayit.
FFH juga memberikan penghargaan khusus kepada Epy Kusnandar atas dedikasi dan pengabdiannya dalam dunia perfilman Indonesia.
Dengan diskusi kritis dan apresiasi yang konsisten, FFH menegaskan posisinya sebagai ruang penting bagi lahirnya horor Indonesia yang lebih matang, relevan, dan berkelanjutan menuju 2026**


















