Bogor, Centang Satu.Com – Sabtu siang (17/1/2026), pelataran pusat perbelanjaan Taman Topi Square mendadak berubah menjadi ruang seni. Di antara hiruk pikuk pengunjung yang keluar masuk pertokoan, sekitar 15 anak usia TK hingga SMP duduk berjejer dengan kuas dan palet warna di tangan. Mereka mengikuti Kelas Melukis Sanggar Obor Sakti yang untuk pertama kalinya digelar di ruang terbuka.
Belajar Seni di Tengah Publik
Biasanya, kelas melukis berlangsung di ruang tertutup. Namun kali ini, pengajar Heri Cokro membawa murid-muridnya ke ruang publik. “Kami ingin anak-anak lebih percaya diri, berani menampilkan proses berkarya di hadapan umum, sekaligus merasakan suasana baru yang tidak membosankan,” ujarnya.

Lalu lalang pengunjung justru menjadi tantangan sekaligus pemicu kreativitas. Anak-anak tampak fokus, sesekali melirik keramaian, lalu kembali menorehkan warna di atas kertas.
Sanggar sebagai Komunitas
Pimpinan Sanggar Obor Sakti, R. Atang Supriatna, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar belajar melukis. “Melalui kegiatan melukis di luar kelas, Sanggar Obor Sakti menjembatani interaksi antara seni dan masyarakat. Kami ingin memperkaya budaya lokal, menginspirasi generasi muda, sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui seni rupa,” katanya.
Sanggar yang telah berjalan selama satu tahun ini berharap bisa menjadi pilihan orang tua dalam membangun karakter anak.
Dukungan dari Pusat Perbelanjaan
Manajemen Taman Topi Square pun menyambut baik. Tonie Sapto, salah satu tim pengelola, bahkan mengikutsertakan putranya. “Kami ingin Taman Topi Square menjadi ruang tumbuh bagi bibit-bibit talenta kreatif Kota Bogor,” ujarnya.

Antusiasme Anak-anak
Suasana semakin semarak ketika anak-anak memamerkan hasil karya mereka kepada orang tua dan pengunjung yang melintas. Senyum bangga menghiasi wajah kecil mereka. “Senang bisa melukis bareng di sini,” seru beberapa anak penuh kegembiraan.
Ruang Publik sebagai Kanvas
Kegiatan ini membuktikan bahwa seni bisa hadir di mana saja, bahkan di tengah keramaian pusat belanja. Dengan dukungan sanggar, orang tua, dan pengelola ruang publik, anak-anak Bogor mendapat kesempatan untuk mengekspresikan diri sekaligus belajar berinteraksi dengan lingkungan sekitar.


















