Scroll untuk baca artikel
Umum

Saat Alam Jadi Panggung: Keubitbit x The Atjeh Connection Live dari Dieng

17
×

Saat Alam Jadi Panggung: Keubitbit x The Atjeh Connection Live dari Dieng

Sebarkan artikel ini

Dieng,CentangSatu.com — Kabut turun pelan, lalu berubah menjadi hujan. Angin mengiris suhu dataran tinggi. Di lanskap yang kerap tak bersahabat itu, Keubitbit memilih berdiri, menyalakan instrumen, dan menekan tombol rekam.

Tidak ada ruang kedap suara. Tidak ada karpet peredam gema. Yang ada hanya hamparan alam Dieng yang dingin dan terbuka. Di tempat inilah Keubitbit berkolaborasi dengan The Atjeh Connection merekam proyek live audio visual bertajuk “Live from Dieng, Wonosobo Indonesia.”

Sebanyak delapan lagu direkam secara langsung. Tanpa tambal sulam berlebihan. Tanpa menyembunyikan gangguan cuaca. Lima kamera menangkap semuanya—resonansi nada yang bersentuhan dengan kabut, percikan hujan yang jatuh di permukaan alat musik, hingga konsentrasi para personel yang bertahan di tengah terpaan angin.

Bagi Safrullah alias Aloelbass leader Keubitbit sekaligus penggagas proyek ini Dieng bukan sekadar lokasi. Ia adalah bagian dari komposisi. Alam menjadi rekan dialog, bukan latar belakang pasif.

Pilihan merekam di ruang terbuka adalah bentuk sikap. Keubitbit seakan ingin menegaskan bahwa bunyi yang jujur lahir dari situasi yang juga jujur. Ketika tempo harus menyesuaikan hembusan angin, ketika dinamika suara berubah mengikuti ruang terbuka, di situlah musik menemukan konteksnya.

Proyek ini mendapat dukungan penuh dari The Atjeh Connection sebagai sponsor utama. Di balik layar, Executive Producer Amir Faisal memastikan visi artistik berjalan presisi meski kondisi produksi jauh dari ideal.

“Live from Dieng” bukan sekadar konten musik untuk kanal digital. Ia adalah pernyataan identitas. Bahwa karya dengan akar lokal bisa tampil tanpa minder dalam percakapan global.

Spirit Aceh, Nafas Kontemporer

Berbasis di Jakarta, Keubitbit dikenal sebagai kolektif musik eksploratif yang meramu spirit dan elemen musikal Aceh ke dalam format kontemporer yang sinematik. Mereka tak hanya memainkan komposisi, tetapi membangun lanskap suara mengolah tekstur, ritme, dan atmosfer menjadi pengalaman ruang.

Nama mereka juga tercatat dalam panggung nasional, termasuk lewat pengakuan di ajang Anugerah Musik Indonesia. Namun proyek di Dieng menghadirkan dimensi berbeda lebih mentah, lebih intim, sekaligus lebih berani.

Rencananya, proyek ini tayang perdana pada 20 Februari 2026 melalui kanal YouTube resmi The Atjeh Connection, sebelum dirilis di berbagai platform digital streaming.

Di tengah industri musik yang kerap mengejar viralitas instan, langkah Keubitbit terasa seperti napas panjang. Mereka tidak sekadar merekam lagu, melainkan merekam momen tentang dingin, tentang ketahanan, tentang identitas.

Dari kabut Dieng, delapan lagu itu meluncur. Tidak hanya sebagai karya, tetapi sebagai sikap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *