Scroll untuk baca artikel
Umum

Spirit Band Hidup Kembali dalam Spirit 86 Reborn: Jazz Lama, Napas Baru

2
×

Spirit Band Hidup Kembali dalam Spirit 86 Reborn: Jazz Lama, Napas Baru

Sebarkan artikel ini

JAKARTA,CentangSatu.com -| Ada malam ketika jazz tak sekadar terdengar  ia berdenyut,Itulah yang terjadi di Fat & Sim, Ra Suites Hotel, Senin (16/2/2026). Lampu temaram, denting Rhodes, tiupan saksofon yang lembut, dan groove bass yang rapi membuka bab baru perjalanan Spirit 86 Reborn  proyek kebangkitan Spirit Band yang terasa lebih sebagai kelahiran ulang ketimbang reuni.

Di balik keyboard, Eramono Soekarjo duduk tenang. Tatapannya fokus, jemarinya mengalir. Sang pendiri Spirit tampak seperti dirigen kecil yang mengatur lalu lintas energi lintas generasi.

“Ini bukan nostalgia,“Ini regenerasi.”Ujarnya.kalimat itu menjadi tesis utama Spirit 86 Reborn.

Dari Jazz Fusion 80-an ke YouTube Generation

Spirit Band lahir di era ketika jazz fusion Indonesia masih bergerak di jalur underground eksperimental, progresif, dan tak kompromistis. Kini, Spirit kembali dengan formasi yang sebagian besar diisi musisi muda: generasi yang tumbuh bersama algoritma, playlist, dan referensi global.

Dua lagu klasik, Bayang-bayang Semu dan Ilusi: Kau Ini Siapa?, dibongkar ulang dengan pendekatan jazz kontemporer dan pop modern. Harmoninya lebih terbuka. Dinamikanya lebih cair. Tapi melodinya tetap membawa aroma Spirit era awal.

Eramono mengawal sendiri aransemen itu.

“Struktur dasarnya masih saya jaga. Sound-nya kita update. Jazz itu bebas, tapi identitas tetap penting,” ujarnya.

Hasilnya bukan sekadar versi baru dari lagu lama melainkan reinterpretasi.

Formasi Baru, Ruh Lama

Spirit 86 Reborn tidak sekadar mengganti pemain. Ia membangun ekosistem.

Adrian Eramono, putra Eramono sendiri, masuk sebagai rhythm guitarist. Sementara posisi lain diisi musisi muda yang datang dengan energi segar, tapi hormat pada akar musik Spirit.

Nama-nama besar generasi lama seperti Dewa Budjana sengaja tidak dilibatkan.

“Yang senior sudah punya dunia sendiri. Ini benar-benar generasi baru,” kata Eramono.

Menariknya, para personel muda ini mengenal Spirit pertama kali bukan dari kaset atau vinyl, melainkan dari YouTube.

“Mereka sering bilang, tiap tahun nonton Spirit di YouTube. Sekarang malah main bareng. Itu lucu sekaligus mengharukan,” ujar Eramono sambil tersenyum.

Jazz, kali ini, berpindah tangan.

Spirit, Royalti, dan Realitas Industri,Spirit 86 Reborn juga menandai fase baru dalam pengelolaan karya. Eramono mengakui banyak katalog lama Spirit selama ini beredar bebas di platform digital tanpa tata kelola royalti yang jelas.

Lewat proyek ini, sekitar 10 lagu lama akan dirapikan terlebih dahulu sebelum masuk ke rilisan baru.

“Saya berterima kasih lagu-lagu itu masih hidup. Tapi sekarang waktunya belajar menikmati royalti secara resmi,” katanya.

Tentang jazz yang kini makin dekat dengan sponsor dan industri? Eramono memilih realistis.

Baginya, musik tetap ruang eksperimen, meski berjalan berdampingan dengan komersialisasi.

Estafet yang Disengaja

Di balik Spirit 86 Reborn, ada misi personal: estafet.

Eramono tak ingin Spirit berhenti sebagai arsip sejarah. Ia ingin Spirit menjadi organisme hidup bergerak bersama zaman.

“Tugas saya sekarang mengantarkan generasi berikutnya. Mereka yang akan meneruskan,” ujarnya.

Formasi Spirit 86 Reborn saat ini terdiri dari Eramono Soekarjo (keyboard), Markov Cornelius Sembel (saksofon), Moody Wijaya (bass), Adrian Eramono (rhythm guitar), Archieta Aditya (drum), dan Lili Amelia (vokal), di bawah naungan OHMYJAZZ! Management.

Spirit tidak kembali untuk bernostalgia.Ia kembali untuk berevolusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *