Scroll untuk baca artikel
Umum

Menanam Mental, Memanen Profesional: Diklat ISA di Tengah Hiruk-Pikuk Sepak Bola Usia Muda

24
×

Menanam Mental, Memanen Profesional: Diklat ISA di Tengah Hiruk-Pikuk Sepak Bola Usia Muda

Sebarkan artikel ini

Bogor,CentangSatu.com -| Di tengah gegap gempita turnamen usia muda yang kerap menjadikan trofi sebagai etalase utama, Diklat ISA (Imran Soccer Academy) memilih menepi dari euforia sesaat. Akademi yang berdiri di Nagrak, Gunung Putri, Bogor itu tidak sedang berburu tepuk tangan. Mereka sedang membangun fondasi.

Di bawah arahan Worgu Chiemela, Diklat ISA menegaskan satu hal: sepak bola usia muda bukan panggung pamer bakat instan, melainkan ruang pembentukan karakter dan pemahaman permainan.

Juara Itu Konsekuensi, Bukan Tujuan

Catatan prestasi mereka bukan isapan jempol. Gelar Liga TopSkor U-18 diraih dengan mayoritas pemain yang baru “naik kelas” dari U-16. Disusul trofi Holiday Game di Pancoran Soccer Field dan FOSSBI U-17 pada musim berikutnya.

Namun Worgu menolak terjebak pada romantika piala.

Ia menyebut kemenangan hanyalah konsekuensi dari proses yang benar. Baginya, ukuran keberhasilan bukan pada selebrasi podium, melainkan pada perubahan cara berpikir pemain di lapangan.

“Ada anak yang datang tanpa visi bermain. Setelah dibina, mereka paham kapan harus menahan bola, kapan membuka ruang, kapan menekan. Itu yang membuat saya puas,” ujarnya.

Di titik inilah Diklat ISA berbeda. Mereka tak sekadar melatih kaki, tetapi melatih keputusan.

Sepak Bola Adalah Soal Mental

Realitas pembinaan usia muda di Indonesia kerap melupakan satu aspek krusial: psikologi. Banyak pemain muda merantau dengan mimpi besar, tetapi tanpa kesiapan mental menghadapi tekanan kompetisi dan kerinduan rumah.

Worgu memilih pendekatan humanis. Ia tidak sekadar berdiri sebagai pelatih, tetapi juga sebagai pendengar.

Pemain-pemain dari luar daerah diberi ruang adaptasi. Didekati secara personal. Diberi keyakinan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, bukan akhir cerita.

Pendekatan ini mungkin tak terlihat di papan skor. Namun justru di sanalah mental juara dibangun pelan, konsisten, tanpa sorotan kamera.

Coach Worgu Chiemela

Efisiensi dan Disiplin

Latihan di Diklat ISA dilakukan tiga kali sepekan dengan durasi maksimal dua jam. Bagi Worgu, durasi panjang bukan jaminan kualitas.

“Kalau terlalu lama, fokus turun. Intensitas dan detail lebih penting,” tegasnya.

Pendekatan ini menunjukkan kedisiplinan metodologi. Tidak ada sesi yang mubazir. Setiap latihan diarahkan pada peningkatan konkret baik dalam aspek teknis, taktik, maupun pemahaman situasi pertandingan.

Menghadapi Liga Jakarta U-17, target yang dicanangkan pun tidak bombastis. Improvement tetap menjadi prioritas utama.

“Semua pemain harus dapat kesempatan bermain. Mereka harus merasakan atmosfer kompetisi resmi. Itu bekal yang tidak bisa digantikan,” katanya.

Dari Akademi ke Liga Profesional

Filosofi tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Beberapa alumni Diklat ISA telah menembus level profesional, termasuk Dani Ramadani yang kini membela PSIS Semarang.

Bagi Worgu, itulah indikator keberhasilan yang sesungguhnya. Bukan jumlah trofi di lemari, tetapi jumlah pemain yang mampu bertahan di industri sepak bola profesional.

Di tengah kultur sepak bola usia muda yang kadang terjebak pada gengsi jangka pendek, Diklat ISA memilih konsistensi sebagai jalan.

Karena pada akhirnya, sepak bola bukan hanya tentang siapa yang menang hari ini. Melainkan siapa yang siap bertahan dan berkembang lima atau sepuluh tahun ke depan.|Foto : IssonKhoirul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *