Jakarta,CentangSatu.com— Di awal Ramadan 1447 Hijriah,Kapolri Jendral Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat Muslim di Indonesia. Namun lebih dari sekadar sapaan seremonial, pesan itu mengandung ajakan reflektif tentang makna pengabdian dan kemanusiaan.
Bagi Kapolri, Ramadan bukan hanya ruang spiritual yang bersifat personal, melainkan juga momentum etis bagi institusi. Ia mengingatkan bahwa tugas menjaga keamanan dan ketertiban tidak cukup dijalankan dengan prosedur dan kewenangan semata, melainkan juga dengan empati yang tumbuh dari kesadaran batin.
“Ramadan mengajarkan kita untuk hadir menjadi pelindung bagi yang lemah, menjadi penolong bagi yang membutuhkan, serta menjadi penguat saat menghadapi kesulitan,” ujarnya.
Dalam konteks pelayanan publik, pesan tersebut menemukan relevansinya. Keamanan yang kokoh lahir bukan hanya dari ketegasan, tetapi dari kepercayaan. Dan kepercayaan tumbuh ketika aparat menghadirkan ketulusan dalam setiap interaksi.
Ramadan, dengan segala disiplin dan pengendalian dirinya, menghadirkan pelajaran tentang kesabaran dan solidaritas. Nilai-nilai inilah yang diharapkan menjiwai tugas pengabdian menjadikan pelayanan tidak sekadar kewajiban administratif, melainkan perwujudan tanggung jawab moral.
Di tengah dinamika sosial yang terus bergerak, ajakan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa stabilitas adalah kerja bersama. Ramadan memberi ruang bagi masyarakat dan aparat untuk mempererat kebersamaan, menjaga suasana tetap teduh, serta memastikan ibadah berlangsung dalam ketenangan.
Dengan demikian, bulan suci tidak hanya memperkaya dimensi spiritual individu, tetapi juga memperhalus wajah pelayanan publik lebih humanis, lebih empatik, dan lebih bermakna.


















