Scroll untuk baca artikel
Hiburan

Ady Eks NAFF Kembali dengan “Berbisik Lirih”, Lagu Religi yang Romantis dan Menggetarkan Jiwa

21
×

Ady Eks NAFF Kembali dengan “Berbisik Lirih”, Lagu Religi yang Romantis dan Menggetarkan Jiwa

Sebarkan artikel ini

Jakarta,CentangSatu.com— Nama Ady, eks vokalis NAFF yang melejit lewat lagu legendaris Akhirnya Ku Menemukanmu, kembali menyapa pendengar dengan cara yang berbeda. Bukan dengan ledakan nada tinggi atau lirik patah hati, melainkan lewat bisikan paling sunyi dalam hati—sebuah karya religi bertajuk “Berbisik Lirih.”

Dirilis secara independen melalui label miliknya sendiri, Adyctivity, lagu ini menjadi penanda fase baru perjalanan musikal Ady. Lebih tenang, lebih dalam, dan terasa sangat personal.

Jika kebanyakan lagu religi hadir dengan pesan yang tegas dan lantang, “Berbisik Lirih” justru memilih jalan sunyi. Ia tidak menggurui. Ia tidak menghakimi. Ia hanya mengajak pulang.

Ady membingkai spiritualitas dalam bahasa yang hangat dan romantis. “Berbisik lirih” dimaknai sebagai doa yang tak selalu diucapkan keras, tapi tumbuh dari keheningan paling jujur. Sementara frasa yang terdengar intim di dalam liriknya bukanlah makna harfiah, melainkan simbol kedekatan batin antara manusia dan Tuhan.

Di tangan Ady, Tuhan tak digambarkan sebagai jarak yang menakutkan, melainkan sebagai kehadiran yang dirindukan. Layaknya kekasih yang lama tak ditemui dicari dalam gelap, dipanggil dalam ragu, dan dipeluk dalam air mata.

Pendekatan ini membuat “Berbisik Lirih” terasa begitu manusiawi. Hangat. Dekat. Dan menyentuh.

Menjelang Ramadhan, lagu ini hadir seperti pelukan lembut bagi mereka yang merasa jauh, khilaf, atau kehilangan arah. Ia tidak menawarkan kesempurnaan. Ia menawarkan keberanian untuk kembali.

Dengan konsep yang universal dan inklusif, “Berbisik Lirih” bisa dimaknai oleh siapa pun, dari latar keyakinan apa pun. Karena pada akhirnya, kerinduan kepada Sang Pencipta adalah pengalaman yang sangat personal dan sangat manusia.

Melalui karya ini, Ady seolah ingin berkata: tak perlu berteriak untuk didengar. Kadang, Tuhan justru paling dekat ketika kita berbisik.

“Berbisik Lirih” bukan sekadar lagu religi. Ia adalah percakapan. Ia adalah pengakuan. Ia adalah jalan pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *