SURABAYA,CentangSatu.com — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat kebudayaan dunia. Hal itu didasarkan pada kekayaan dan keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia sebagai negara kepulauan.
“Dengan lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 suku bangsa, dan ratusan bahasa daerah, Indonesia disebut sebagai negara dengan megadiversity budaya yang menjadikannya berpotensi menjadi pusat kebudayaan dunia dan kekuatan besar di bidang kebudayaan,” ujar Fadli dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (22/1).
Menurut dia, keragaman tersebut bukan sekadar identitas, melainkan modal strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global melalui diplomasi dan kerja sama kebudayaan.
Gagasan “Out of Nusantara”
Dalam forum itu, Fadli juga memperkenalkan istilah “Out of Nusantara” untuk menegaskan posisi strategis Indonesia dalam sejarah migrasi manusia.
Ia menyebut, selama ini teori yang dikenal luas adalah “Out of Africa”. Namun, berbagai temuan arkeologis menunjukkan bahwa jejak manusia purba di Nusantara telah ada sejak 60.000 hingga 70.000 tahun lalu.
“Bukan tidak mungkin nenek moyang Nusantara bermigrasi ke Pasifik, Australia, bahkan sampai ke Afrika,” katanya.
Ia menilai temuan tersebut membuka ruang kajian baru mengenai arus migrasi manusia dan kontribusi kawasan Nusantara dalam sejarah peradaban dunia.
Museum sebagai Etalase Peradaban
Selain aspek prasejarah, Fadli menyoroti pentingnya penguatan museum sebagai etalase peradaban bangsa. Ia mencontohkan Louvre Museum di Paris, Prancis, sebagai simbol identitas budaya sekaligus pusat edukasi publik.
“Kita berharap museum-museum di Indonesia menjadi pusat edukasi dan etalase peradaban bangsa,” ujarnya.
Menurut dia, pengelolaan museum yang modern dan interaktif dapat memperkuat literasi sejarah sekaligus meningkatkan daya tarik wisata budaya.
Film Nasional Mendominasi Pasar
Fadli juga menyinggung perkembangan industri kreatif, khususnya perfilman nasional, yang kini menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar domestik.
Ia menyebut film animasi “Jumbo” mencetak rekor penonton di dalam negeri. Selain itu, film Indonesia juga tampil di berbagai ajang internasional seperti Berlin International Film Festival dan Cannes Film Festival.
“Kebudayaan adalah fondasi. Di mana pun latar belakang kita, tidak pernah bisa dilepaskan dari budaya,” kata Fadli.


















