Scroll untuk baca artikel
HiburanFilm

Dari Berlin ke Bioskop Indonesia, “Ghost in the Cell” Hadirkan Teror dan Satir

3
×

Dari Berlin ke Bioskop Indonesia, “Ghost in the Cell” Hadirkan Teror dan Satir

Sebarkan artikel ini

Jakarta,CentangSatu.com — Setelah mendapat sambutan hangat dalam pemutaran perdana dunia di Berlin International Film Festival, film terbaru produksi Come and See Pictures, Ghost in the Cell, resmi merilis trailer perdana. Film ini menjanjikan pengalaman menonton yang bukan hanya mencekam, tetapi juga sarat makna.

Disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar, Ghost in the Cell menjadi film ke-12 dalam perjalanan kreatifnya. Kali ini, ia menggabungkan horor supranatural dengan satir sosial-politik yang merefleksikan situasi Indonesia, dikemas dalam balutan visual dan tata suara yang dirancang memanjakan penonton.

Film ini mengambil latar penjara ruang terbatas yang dihuni para narapidana yang perlahan berubah menjadi arena kekacauan dan teror. Namun, bagi Joko, penjara bukan sekadar lokasi, melainkan metafora.

“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar Joko.

Ia menambahkan, film ini didesain agar penonton dapat “tertawa lepas karena melihat kehidupan kita sendiri”, meski dibungkus dalam suasana mencekam.

Deretan aktor papan atas turut memperkuat ansambel film ini, di antaranya Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, Ho Yuhang, serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Abimana, yang memerankan tokoh Anggoro sekaligus menjadi pemeran utama, menilai film ini sebagai refleksi yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

“Meski latarnya penjara dan para karakternya adalah napi, bagi saya ini gambaran jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang. Dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme saat tidak bisa bergantung pada institusi resmi,” ujarnya.

Dari sisi produksi, produser Tia Hasibuan menjelaskan pendekatan yang diambil tergolong efektif dan efisien. Proses syuting berlangsung selama 22 hari, dengan waktu pengambilan gambar hanya setengah hari setiap harinya.

“Kami mengambil gambar dari pagi dan berakhir saat jam makan siang. Jadi meskipun 22 hari, terasa seperti 11 hari produksi penuh. Hampir seluruhnya menggunakan pendekatan one shot take, sehingga sejak pra-produksi sudah dipersiapkan sangat matang,” kata Tia.

Pendekatan sinematik film ini pun berbeda. Jika film pada umumnya memiliki sekitar 120 adegan, Ghost in the Cell hanya terdiri dari 43 adegan dengan durasi panjang, menyerupai pertunjukan teater. Format ini menuntut performa aktor yang solid dan presisi tinggi.

Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures. Sementara itu, Barunson E&A bertindak sebagai sales agent untuk perilisan internasional.

Ghost in the Cell dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 April 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *